Follow by Email

Sabtu, 21 Juli 2012

Teater Ramadhan

Bulan suci Ramadhan sudah di depan mata. Inilah bulan yang sangat diagungkan oleh umat Islam. Karena dalam bulan ini Tuhan membuka pintu maaf sebesar-besarnya. Semua bentuk dosa dapat dihapuskan, karena bulan ini adalan bulan pencucian dosa. Tak ketinggalan, pintu rahmat juga akan dibuka lebar-lebar. Jadi segala amalan yang dilakukan pada bulan Ramadhan akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda. Maka tidak heran kalau umat Islam selalu dianjurkan untuk meningkatkan ibadah di bulan ini.

Tapi sadarkah Anda, kalau bulan suci ini ibarat sebuah panggung besar. Di panggung itu kita laksana bermain teater dan peran yang paling banyak dimainkan adalah peran “merasa lebih Islami”. Pada bulan ini mesjid tiba-tiba penuh. Pengajian tiba-tiba sesak dengan jamaah. Asma Allah seketika berkumandang dimana-mana. Padahal sebelumnya, mesjid lengang. Pengajian terasa membosankan. Dan asma Allah.. siapa yang ingat kepadanya?

Tampaknya semangat ramadhan muncul dalam wajah yang berbeda. Semua orang tiba-tiba bicara soal agama. Mulai dari pejabat, politisi sampai artis sinetron. Semua berusaha untuk tampil sesuci mungkin di bulan ini. Padahal di bulan yang lain belum tentu seperti itu. Sebagai contoh, perhatikan televisi anda. Pasti mudah sekali membedakan tampilan isi televisi kita ketika bukan bulan ramadhan, dan bukan pada bulan ramadhan.

Artis-artis kesayangan kita tiba-tiba tampil dengan balutan busana muslim. Yang pria tampak bersahaja dengan sarung, baju koko dan pecinya. Sementara yang perempuan tampil mempesona dengan jilbab dan baju kurungnya. Tutur bahasanya pun jadi santun dan sopan. Padahal, di luar bulan ramadhan mereka terbiasa tampil dengan tank top, rok mini atau baju ketat. Yang pria pun tak kalah gaya dengan yang perempuan.

Sinetron kita tiba-tiba mengusung tema Islam, dengan judul yang mengambil nama-nama perempuan Islam. Seperti Nurjannah, Aisyah dan sebagainya. Dengan seketika istilah-istilah seperti “antum”, “ukhti” dan “ustadz” tiba-tiba akrab dalam telinga kita. Sinetron kita menjelma menjadi sinetron yang sangat islami. Penonton dibuat seakan-akan kalau sudah menontonnya, iman jadi bertambah tebal. Padahal inti ceritanya sama persis dengan sinetron di luar bulan ramadhan. Kalau tidak berebut pria, yah berebut perempuan. Perannya pun setali tiga uang dengan sinetron non-ramadhan. Ibu mertua yang jahat, saudara perempuan yang licik, ayah yang bijaksana dan si miskin yang menderita.

Mimpi pun tetap dijual dalam sinetron-sinetron ramadhan itu. Sama seperti sinetron pada umumnya. Pemeran prianya selalu masih muda dan mapan. Lengkap dengan rumah mewah dan mobil berkelasnya. Dan kata-kata kasar dan makian tidak ketinggalan. Tapi bedanya di sinetron ramadhan ini, ada kata-kata seperti “Masya Allah”, “Innalillahi”, dan “Allahu Akbar”

Itu di dunia sinetron. Di dunia keartisan lainnya, tidak jauh berbeda. Masih di televisi, hampir semua artis penyanyi banting setir jadi penyanyi lagu-lagu bernuansa rohani. Mereka yang bisanya tampil urakan dan bergaya agak sedikit dipaksakan, tiba-tiba tampil dengan balutan busana muslim. Yang paling banyak, mengenakan baju koko warna putih, lengkap dengan selendang yang melingkar di leher, dan sebagian ada yang memakai peci. Mereka yang biasanya menyanyikan lagu bertema jatuh cinta, patah hati, perselingkuhan dan kasih tak sampai, tiba-tiba mendendangkan soal tobat, pasrah dan kecintaan pada Sang Khalik. Sungguh sebuah keadaan yang terbalik 180 derajat.

Melihat fenomena seperti ini, apa yang ada dalam benak anda? Kalau saya menangkap dua hal. Kemunafikan dan upaya komersialisasi agama. Kemunafikan terlihat jelas pada bulan ramadhan. Mereka yang terbiasa hidup glamor dan/atau terbiasa menikmati dunia gemerlap, tiba-tiba muncul dalam balutan baju muslim hanya karena ini bulan ramadhan. Itu yang terlihat di depan televisi. Di belakang kamera siapa yang tahu? Apakah mereka tetap konsisten dengan semangat keislamannya, atau malah sebaliknya.

Untuk menjawab pertanyaan ini sebenarnya tidak sulit. Lihat saja bagaimana kehidupan mereka setelah bulan ramadhan. Apakah mereka tetap dalam balutan busana muslim? Apakah tutur kata mereka tetap sopan dan santun? Apakah mereka tetap berbicara soal agama? Anda bisa menilai sendiri.

Kedua, komersialisasi agama. Sebagaimana kita tahu, umat Islam sangat antusias dalam menyambut bulan suci ramadhan. Nah, antusiasme inilah yang dimanfaatkan para pemilik modal untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya di bulan ramadhan. Maka dibuatlah sinetron-sinetron bertemakan islam. Lengkap dengan pemainnya yang tiba-tiba berbusana muslim. Selain itu, keluarlah album religi dari artis kesayangan anda.

Tak ketinggalan iklan. Di bulan puasa ini muncul sejumlah iklan versi ramadhan. Tak jauh berbeda dengan sinetron, bintang iklannya pun tiba-tiba berjilbab dan berpeci. Tema yang ditawarkan pun sebenarnya agak dipaksakan dengan bulan ramadhan. Sebagai contoh, apa hubungannya rokok dengan bulan ramadhan? Padahal kita semua tahu kalau merokok itu hukumnya haram pada bulan puasa. Tapi karena ini adalah bulan yang penuh rahmat, maka iklan rokok pun dibuat dengan nuansa ramadhan/Islami.

Semua yang saya sebutkan diatas merupakan bentuk komersialisasi agama. Antusiasme umat Islam yang sedang menanjak dalam bulan ramadhan ini dijadikan alat oleh pemegang modal untuk meraup untung sebesar-besarnya. Meraup untung sebenarnya sah-sah saja dalam berdagang. Tapi kalau sampai mengkerdilkan sebuah agama yang agung, tentu lain persoalannya.

Itulah sekelumit paparan mengenai teater di bulan Ramadhan. Bulan ini memang suci. Peran apakah yang Anda mainkan dalam teater sebulan penuh ini? Apakah Anda ikut terbuai dengan semangat ramadhan yang semu? Atau Anda berupaya menemukan makna yang paling hakiki dari bulan ini? Semoga Anda dan saya masuk dalam pilihan yang terakhir.

Selamat berpuasa!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar