Follow by Email

Jumat, 17 Februari 2012

Sepenggal Kata Dari Masa Silam (2)

Tulisan ini dibuat sekitar tahun 2005. Ketika itu sinetron religi lagi ramai-ramainya muncul di televisi. Semua stasiun TV, kecuali Metro TV, saat itu pada latah menayangkan sinetron religi.

Komersialisasi Agama Dalam Sinetron Indonesia

Akhir-akhir ini banyak bermunculan sinetron religius yang menghiasi hampir seluruh stasiun televisi di Indonesia. Sinetron-sinetron tersebut muncul bagaikan jamur di musim hujan. Awalnya hanya ada satu stasiun televisi saja yang menayangkan sinetron tersebut. Itupun hanya satu judul sinetron saja. Namun ketika antusiasme pemirsa terlihat sangat bagus, maka stasiun televisi lainnya pun ikut-ikutan menayangkannya. Bahkan kini satu stasiun televisi dapat menayangkan lebih dari satu judul sinetron religius. Akhirnya setiap hari kita disuguhi sinetron-sinetron religius tersebut oleh stasiun televisi di Indonesia.

Fenomena ini mengantarkan kita pada sebuah tanda tanya yang besar: mengapa sinetron terus bermunculan ? Pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan filosofis yang berupaya untuk mencari tahu apa latar belakang dari kemunculan sinetron-sinetron religius tersebut. Dikarenakan sinetron-sinetron tersebut menggunakan simbol-simbol agama tertentu, maka kita sebagai orang yang beragama harus dapat mencermati fenomena ini dengan semangat kritis. Tulisan ini akan sedikit menganalisa sembari mencari jawaban dari pertanyaan tesebut.

Sebagaimana kita tahu bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki jumlah penduduk beragama Islam terbesar di dunia. Meski begitu Indonesia tidak dapat dikatakan sebagai negara Islam. Masyarakat muslim di Indonesia sangat bangga dengan identitas ke-Islamannya. Kebanggan itu dimanifestasikan dalam banyak cara dan banyak bentuk. Antara lain seperti mengenakan busana muslim, mengkoleksi pernak-pernik yang bernuansa Islam, mendirikan partai politik yang berasaskan Islam, dan menikmati tayangan televisi yang dikemas secara Islami seperti sinetron.

Besarnya antusias masyarakat muslim Indonesia terhadap hal-hal yang bernuansa Islam, oleh sebagian orang dipandang sebagai peluang yang dapat dimanfaatkan untuk meraup keuntungan yang besar. Maka didirikanlah pabrik-pabrik yang memproduksi busana muslim, berdirilah industri rumah tangga yang membuat pernak-pernik yang Islami, dideklarasikanlah partai politik Islam dengan harapan dapat meraih suara mayoritas, begitu juga dengan produksi sinetron kita.

Masyarakat muslim Indonesia yang bangga akan identitas ke-Islamannya dipandang oleh para pemilik modal (baca : production house dan stasiun televisi) sebagai pangsa pasar yang bagus untuk meraih keuntungan dengan memproduksi dan menayangkan sinetron religius Islam. Inilah mengapa tidak ada production house yang mau membuat sinetron religius dalam kemasan selain agama Islam, karena Islam adalah agama mayoritas penduduk Indonesia.

Maka dibuatlah sebanyak-banyaknya sinetron religius Islam oleh production house. Stasiun televisi pun berharap pemasukan mereka lewat iklan pun akan meningkat, karena pasti iklan akan antre untuk muncul di tengah-tengah sinetron religius tersebut. Dari analisa diatas, kita bisa menangkap bahwa ada misi lain dari pembuatan sinetron religius. Misi tersebut adalah aspek bisnis.

Dimana simbol-simbol agama dijadikan daya tarik oleh sebagian orang -- yang mempunyai modal – untuk mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya. Agama dan simbol-simbol agama dijadikan komoditi untuk mempermanis kemasan sebuah sinetron, dengan tujuan agar sinetron tersebut ditonton oleh banyak orang.
Menurut saya, ini adalah salah satu bentuk penistaan agama. Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam agama syang eharusnya dijunjung tinggi dan dijadikan pedoman dalam hidup kita, kini malah dikomersialkan dan dijadikan barang dagangan untuk mengeruk keuntungan. Ini tentunya akan merendahkan derajat agama itu sendiri.

Bisa saja pemilik modal berkilah bahwa sinetron-sinetron tersebut dibuat dengan tujuan untuk berdakwah dan menyebarkan ajaran Islam. Mereka menyatakan bahwa sinetron religius adalah salah satu media dakwah yang efektif. Sebab sinetron tersebut tidak hanya mengusung panji-panji agama Islam, tapi juga mengandung nilai-nilai Islam. Ironisnya pendapat ini diamini oleh sebagian besar pemirsanya yang notabene adalah pemeluk agama Islam itu sendiri.

Dan pemegang modal tersebut tidak kehilangan akal untuk tetap dapat meraih simpati pemirsa lewat sinetron religius Islam tersebut dengan mengikutsertakan beberapa ulama untuk tampil memberikan “wejangan” dengan mengutip ayat-ayat Al-Qur’an di beberapa bagian dalam sinetron tersebut. Sekali lagi simbol-simbol agama dijadikan barang dagangan untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya dengan dalih untuk berdakwah.

Sekarang, mari kita lihat bersama-sama. Apabila tujuannya adalah dakwah, apakah ada satu saja dari sinetron tersebut yang dibuat oleh salah satu lembaga dakwah di Indonesia, atau bahkan di dunia ? jawabannya tidak. Sinetron-sinetron tersebut dibuat (diproduksi) oleh production house yang sebelumnya juga memproduksi sinetron-sinetron yang bertemakan cinta, horror, kehidupan remaja, dan sinetron lainnya yang sedang diminati oleh masyarakat.

Dan kini tema sinetron yang sedang diminati oleh masyarakat adalah sinetron yang bertemakan seputar hal-hal yang bernuansa Islami. Saya berani bertaruh, kalau suatu hari nanti masyarakat sudah tidak menyukai sinetron religius ini atau karena tren sinetron telah berubah, dapat dipastikan tidak akan ada lagi production house yang memproduksi sinetron religius ini. Ini artinya apa ? bahwa pembuatan sinetron religius tersebut sama sekali tidak ada misi dakwahnya, semuanya akan berujung pada satu kata, yakni profit.

Maka dari itu kita sebagai mahluk yang berakal harus bisa melihat segala sesuatu secara objektif dan substantif. Tidak menilai sesuatu dari tampilan luarnya saja. Saya yakin banyak orang yang menyukai sinetron religius ditelevisi karena mereka menganggap sinetron tersebut bagus untuk kehidupan beragama mereka. Sebab mereka melihat ada simbol-simbol agama Islam disana. Dan dengan adanya simbol-simbol agama di dalam sinetron-sinetron tersebut, maka mereka meyakini bahwa ada misi dakwah di dalamnya. Tapi belum tentu seperti itu adanya. Pemirsa tampaknya telah salah menilai sinetron religius yang selama ini mereka tonton. Apakah kita ingin menjadi salah satu dari orang-orang tersebut ? kalau bisa jangan.

Sebagai masyarakat yang beragama dan berakal tentunya kita sudah dapat memilah-milah tontonan mana yang memang layak disandingkan dengan simbol-simbol agama. Bukan hanya sekedar simbol, tapi memang ada substansi ajaran-ajaran agama yang riil disana. Kalau tidak, ternyata kita semua beragama hanya dalam tataran semu saja. Karena kita hanya bangga pada simbol-simbol agamanya, tidak pada substansi dari agama itu sendiri. Tanpa disadari kita hanya dijadikan alat untuk mengeruk keuntungan dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Dan pada akhirnya agama akan menjadi bagian dari mesin raksasa yang bernama kapitalisme. Apakah ini yang kita inginkan ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar