Follow by Email

Jumat, 17 Februari 2012

Indahnya Jakarta Tempo Doeloe

Kalau ditanya bagaimana kondisi Jakarta saat ini, sudah pasti kita akan lebih banyak ngomelnya daripada senyumnya. Macet, bising, panas, debu, seakan sudah menjadi makanan sehari-hari di ibukota Indonesia ini. Sampai sekarang, “sang ahli” juga belum bisa menelurkan solusi ampuh untuk mengatasi semua permasalahan Jakarta. Pokoknya stress deh kalo melihat kondisi Jakarta sekarang.

Tapi suasana beda tentang Jakarta saya dapatkan dari film-film DVD koleksi saya. Saya salah satu penggemar  film jadul, seperti Benyamin S dan Warkop DKI. Film-film tersebut beredar sekitar tahun 70-an dan 80-an. Film-film itu bukan hanya enak ditonton karena ceritanya lucu dan menghibur. Tapi film-film itu merupakan bagian rekaman sejarah kota Jakarta. Karena melalui film-film itu kita bisa melihat gambaran jelas kondisi Jakarta tempo doeloe. Dan itu adalah sesuatu yang menarik buat saya.

Ketika menonton film Warkop, saya melihat betapa rimbun dan hijaunya Jakarta saat itu. Pepohonan masih tumbuh menjulang di beberapa sudut kota yang saya kenal, seperti kawasan Rawamangun, Cawang, dan Kuningan. Semak belukar dan lapangan hijau juga bisa saya lihat di daerah Senen, Salemba dan Cempaka Putih. Bahkan di kawasan by pass, masih ada persawahan di salah satu sisi jalannya.

Di salah satu film Benyamin, saya melihat kawasan Senayan masih lengang. Tanah lapang masih terbentang luas disekitar Istora Senayan (kini Gelora Bung Karno). Jalanan lengang sekali. Belum ada gedung bertngkat disana. Yang ada malah warung makan. Padahal sekarang dikawasan itu gedung perkantoran menjulang tinggi di dua sisi jalanan. Belum ditambah mal. Sangat crowded.

Bukan Cuma Senayan, kawasan seperti Sudirman dan Kuningan masih terlihat lengang. Disana kita masih bisa melihat pepohonan rimbun tumbuh di pinggir jalan. Arus lalulintas di jembatan Semanggi pun sangat lancar. Padahal jembatan Semanggi saat itu masih dua jalur. Belum ada jalan tol yang membelah jalan tersebut.

Saya membayangkan, saat itu Jakarta begitu sejuk, begitu teduh dan nyaman. Tidak beda dengan kota lain seperti Bandung, Yogyakarta atau Malang. Tiap pagi kita masih bisa mendengar suara kicau burung yang bertengger diatas dahan pohon. Kita juga masih bisa melihat titik embun tertangkup di daun. Udara dingin pun masih bisa kita rasakan saat matahari hendak keluar dan terbenam. Tapi semua itu kini telah berganti dengan gedung tinggi, perkantoran, pusat perbeanjaan, plaza, mall, apartemen dan kondominium.

Gaya hidup urban dan kebutuhan materialistis menghapus semua nuansa Jakarta yang teduh. Modernisasi mengubah wajah Jakarta yang ramah menjadi kota yang keras dan penuh persaingan. Hal ini tentunya juga berdampak pada psikologis warganya. Tidak ada lagi semangat saling membantu diantara penduduknya. Budaya gotong royong yang dulu lekat pada diri orang Jakarta, kini telah tergantikan oleh sifat individualistis dan hedonis. Watak itu kemudian dikukuhkan dengan sejumlah fasilitas dan penunjang kehidupan modern, seperti mall, plaza, kafe, dan tempat clubbing.

Wajah Jakarta sudah berubah. Diusianya yang semakin tua, Jakarta terlihat semakin ringkih dan rapuh. Bukan hanya kemacetan yang menggerogoti Jakarta. Banjir, sungai kotor, dan sampah membuat ibukota ini tidak lagi cantik. Saya pribadi merindukan Jakarta tempo doeloe yang saya lihat di flim-film Benyamin S dan Warkop.

Seandainya saja saya punya mesin waktu, saya ingin kembali ke Jakarta tempo doeloe dan merasakan hidup di zaman itu. Saya merindukan Jakarta yang sejuk dan teduh, seperti yang saya saksikan dalam film-film tersebut. Bukan Jakarta yang membuat warganya stress, marah dan mengumpat setiap saat seperti sekarang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar