Follow by Email

Jumat, 17 Februari 2012

Menyoal Kristenisasi

“Hari ini Forum Anti Pemurtadan Bekasi (FAPB) menginvestigasi beberapa sekolah di Mekarsari, Tambun Kabupaten Bekasi. Masih banyak lagi SD Negeri yang disinggahi misionaris Mobil Pintar, tapi tidak sempat kami investigasi, karena hari Jum’at waktunya singkat,” ujar Abu Al-Izz, Ketua Umum FAPB seperti yang dikutip voa-Islam.com.

Menanggapi banyaknya kasus yang dilakukan dengan modus yang sama ini, Abu Al-Izz menyatakan bahwa gerakan kristenisasi berkedok Mobil Pintar ini adalah penjarahan akidah yang massif dan kotor.

“Ini bisa disebut penjarahan akidah yang menyasar anak-anak SD. Cara penyiaran agama Kristen ini jelas tidak elegan, kotor, tidak fair dan konyol,” kecamnya.

Itulah kutipan berita di sebuah situs online Islam tentang kristenisasi di Bekasi, Jawa Barat. Isu tersebut memang santer beredar di kalangan warga Bekasi. Cara-cara yang digunakan para misionaris pun, konon kabarnya, beragam. Mulai dari bakti sosial, pengobatan gratis sampai dengan mobil pintar.

Sebagai salah satu orang yang tinggal di Bekasi, saya belum menemukan fakta adanya kegiatan kristenisasi tersebut. Sejumlah warga Bekasi yang pernah saya tanya soal kristenisasi itupun tidak bisa menunjukkan dengan pasti kapan dan dimana kegiatan itu ada dan berlangsung. Semua hanya katanya dan katanya.

Namun, terlepas dari ada atau tidaknya kegiatan kristenisasi di Bekasi, atau di daerah manapun, satu pertanyaan yang mengusik saya adalah, salahkah apabila penganut agama tertentu menyebarkan paham yang dianutnya pada orang lain?

Menurut saya adalah suatu hal yang wajar apabila sekelompok penganut agama menganggap agama yang dianutnya paling benar. Karena itu tidak perlu heran kalau penganut agama tersebut berupaya menyebarkan paham keagamaannya itu pada orang lain.

Semua agama pasti memiliki klaim kebenarannya sendiri. Dalam Islam ada sejumlah ayat dalam Al Qur’an yang menguatkan kebenaran Islam diatas agama lain, seperti :
"Sesungguhnya agama yg diridhai di sisi Allah SWT hanyalah Islam...." (Qs 3:19)

Dan,

"Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali
tidaklah akan diterima agama itu daripadanya,..." (Qs 3:85)
Selain di Al Qur’an, dalil yang senada dengan ayat diatas juga tersebar dalam khazanah keilmuan Islam. Semua berujung pada satu kesimpulan : Hanya Islam yang berhak masuk surga.

Dalam Kristen pun demikian. Dalam Injil ada ayat yang berbunyi, “Akulah jalan dan kebenaran dalam hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku,” (Yohanes 14:6)

Ayat lain berbunyi, “Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat. 10:32-33).

Menilik ayat-ayat diatas, maka kita seharusnya maklum apabila ada tarik menarik umat dalam Islam dan Kristen. Itu adalah salah satu dinamika dalam kehidupan beragama yang sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Kalau sudah begini, mengapa kita umat Islam harus marah kalau ada misionaris yang coba mengkristenkan orang Islam?

Kristenisasi seharusnya jadi ajang introspeksi bagi umat Islam. Upaya umat Kristen “berdakwah” tentang kasih Kristus sudah mutakhir. Tidak hanya dalam gereja, tapi sudah turun ke jalan melalui sejumlah kegiatan seperti bakti social, pengobatan gratis dan mobil pintar. Cara-cara tersebut tentu sangat memikat karena langsung menyasar kebutuhan orang secara mendasar. Bandingkan dengan pola dakwah umat Islam.

Selain itu, kalau memang ada orang Islam yang kemudian berpindah keyakinan ke agama Kristen, ini tentunya harus jadi catatan bagi para ulama, ustad dan mubaligh. Apa saja kerja mereka selama ini? Bukankah tugas mereka adalah membentengi iman umat Islam agar Islam  kokoh berdiri dihati para umatnya? Kalau ternyata ada orang islam yang berhasil di-Kristen-kan, ini jelas adalah sebuah kegagalan para pemuka agama Islam.

Dengan kondisi seperti ini, saya justru melihatnya lucu apabila kita orang Islam malah marah pada orang Kristen. Wong salah sendiri kok, kenapa habib-habibnya tidak bekerja. Ibarat bermain bola, kalau gawang kita kebobolan, apakah kita harus marah pada tim lawan? Orang lain mainnya bagus, kenapa harus kita sewot? Bobolnya gawang seharusnya membuat tim tuan rumah instrospeksi. Mungkin permainannya tidak bagus sehingga harus mengubah strategi dan menempatkan orang-orang terbaiknya digaris depan supaya juga bisa membobol gawang lawan.

Sekarang sekelompok umat Islam (lebih tepatnya Islam garis keras) seperti terbakar jenggotnya menanggapi isu kristenisasi di Bekasi. Bahkan mereka sampai menggelar tabligh akbar untuk menghalau upaya tersebut. Pertanyaan saya, kenapa harus kebakaran jenggot? Kenapa harus marah? Langsung saja aktifkan pengajian di semua masjid, hidupkan majelis taklim, perdalam pemahaman umat Islam akan agamanya. Itu lebih baik daripada harus memasang tampang gahar, dan seakan ingin berperang melawan umat agama lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar