Follow by Email

Sabtu, 25 Februari 2012

JIL Vs FPI


Belakangan ini saya melihat ada sesuatu yang unik di situs jejaring sosial. Ada yang membuat gerakan Indonesia tanpa JIL (Jaringan Islam Liberal). Entah siapa yang memulai gerakan itu, saya tidak terlalu mau tahu. Tapi satu yang pasti, entah bagaimana saya yakin, kalau gerakan itu adalah antitesis dari gerakan Indonesia Tanpa FPI (Front Pembela Islam). Sebelumnya, tepat pada hari kasih sayang, 14 Februari 2012, puluhan orang yang berasal dari sejumlah organisasi dan perkumpulan, berdemo di Bunderan HI Jakarta, menyuarakan Indonesia Tanpa FPI.  

Gerakan ini dipicu aksi heroik masyarakat adat Dayak Kalimantan Tengah yang menolak empat pengurus FPI yang hendak meresmikan FPI cabang Kalteng. Langkah keempat petinggi FPI itu terhenti di bandara Tjilik Riwut karena ribuan masyarakat Dayak mengepung pesawat yang membawa petinggi FPI itu. Mereka terkejut campur takut, sehingga mereka tidak berani turun dari pesawat dan akhirnya diturunkan di Banjarmasin oleh pihak maskapai.

Setelah diklarifikasi, masyarakat adat Dayak Kalimantan Tengah menolak FPI bukan karena organisasi tersebut mengusung panji-panji Islam. Penolakan itu lebih disebabkan pada citra FPI yang lekat dengan kekerasan dan intoleransi. Kejadian di bandara Tjilik Riwut itu seperti membuka kotak Pandora. Banyak orang yang terinspirasi oleh keberanian orang Dayak. Inspirasi itu kemudian terwujud beberapa hari berikutnya di Jakarta, lewat gerakan Indonesia Tanpa FPI.

Nah, kira-kira selang seminggu dari demo Indonesia Tanpa FPI, muncul gerakan serupa tapi dari kutub yang berbeda : Indonesia Tanpa JIL. Entah apa korelasi JIL dengan FPI sehingga pendukung gerakan itu seakan ingin memunculkan logika, “Kalau menolak FPI berarti mendukung JIL”. Logika ini bisa dimaklumi kalau inisiator Indonesia tanpa JIL adalah anggota FPI. Tapi sepertinya gerakan itu tidak terkait langsung dengan FPI secara organisasi.. entahlah!

Menurut saya, tidak ada yang baru dari gerakan Indonesia Tanpa JIL. Semangatnya tetap sama, yakni menolak JIL karena dianggap merusak akidah umat Islam. Ini adalah isu lama. Isu ini sudah ada sejak munculnya JIL sebelas tahun lalu. Sejak itu pertarungan gagasan dan ide antara JIL dan penentangnya terus bergulir. Orang-orang yang mendukung gerakan Indonesia Tanpa JIL seperti kembali meracau mengenai sakit hati mereka terhadap JIL.

Karena tidak ada yang baru, maka menurut saya, gerakan Indonesia Tanpa JIL tidak ada urgensinya. Apa coba urgensinya? Semua gagasan yang dibawa JIL telah dipatahkan jauh-jauh hari. Beribu-ribu artikel dan buku sudah ditulis untuk meredam gagasan liberalisme Islam di Indonesia. Terlebih saat ini JIL tidak lagi sekuat dan sebesar dulu. Jaringan Islam Liberal sudah melemah.

Tahun 2005, JIL merayakan ulang tahunnya yang keempat di Komunitas Utan Kayu. Pada perayaan ultahnya, JIL menggelar sejumlah acara disana selama seminggu penuh. Ada diskusi, pemutaran film dan bazaar buku. Di hari terakhir saya menyempatkan diri kesana untuk ikut diskusinya. Disana saya melihat betapa meriahnya ulang tahun JIL. Komunitas Utan Kayu diubah layaknya pasar malam. Pengunjungnya penuh sesak. Pemandangan seperti itu memunculkan kesan dalam benak saya, betapa besar dan kuatnya mahluk yang bernama JIL ini.

Tapi selang dua tahun kemudian, saya kembali menghadiri ulang tahun JIL. Apa yang saya lihat? Saya tidak melihat gemerlap dan keriuhan yang saya temui dua tahun sebelumnya. Kali ini ulang tahun JIL begitu sederhana, bahkan terkesan biasa. Kalau tahun 2005 perayaan ultah JIL dilangsungkan selama seminggu penuh dengan beragam acara, pada tahun 2007 perayaan ultah hanya dilangsungkan selama tiga hari. Itu pun hanya diisi dengan acara diskusi. Tidak ada pemutaran film, tidak ada bazaar buku.

Usut punya usut, perubahan pada JIL itu disebabkan karena organisasi ini telah “ditinggalkan” oleh punggawa-punggawanya, Ulil Abshar Abdallah, Lutfie Assyaukanie, Abdul Moqsith Ghazali dan Novriantoni Kahar. Mereka melanjutkan studi ke sejumlah perguruan tinggi di dalam dan luar negeri. Ulil ke Boston dan Lutfie ke Australia. Sementara Abdul Moqsith Ghazali melanjutkan studi S3 di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Dan Novriantoni melanjutkan S2 di jurusan Sosiologi Universitas Indonesia.

 Di Indonesia, JIL diurus oleh generasi keduanya, Saidiman Ahmad, Anick HT dan Mohammad Guntur Romli. Menurut pengamatan saya, ketiga orang ini tidak semilitan kwartet sebelumnya. Ini juga yang (mungkin) jadi faktor merosotnya gerilya JIL, termasuk dalam urusan pendanaan. Terlebih Ulil, Lutfie dan Novri hampir tidak aktif lagi di JIL karena punya kesibukan baru diluar. Kondisi lima tahun lalu itu tidak jauh berbeda dengan hari ini.

Penyebaran gagasan liberal Islam, sebelumnya dilakukan JIL melalui diskusi bulanan, roadshow ke kampus-kampus, penerbitan buku dan update tulisan di situs islamlib.com. Tapi kini roadshow ke kampus makin jarang, penerbitan buku hampir tidak ada. Kegiatan yang masih terlihat, diskusi bulanan dan update tulisan di situs. Jelas JIL telah melemah. Lantas apa urgensinya melakukan gerakan Indonesia Tanpa JIL?

Berbeda dengan gerakan Indonesia Tanpa FPI. Gerakan ini jelas memiliki momentum yang tepat. Gerakan ini juga sebagai media ekspresi kemuakan masyarakat terhadap ulah, perangai dan sepak terjang FPI. Gerakan ini juga mempunyai urgensi, yakni menyelamatkan Indonesia dari ancaman kelompok radikal, serta mengenyahkan kekerasan dalam kultur kebangsaan Indonesia. Kita semua tahu, radikalisme dan kekerasan tidak bisa lepas dari mahluk yang bernama FPI.

Sejak berdiri tahun 1998, entah sudah berapa banyak aksi kekerasan yang mengatasnamakan agama yang dilakukan FPI. Mulai dari razia tempat (yang menurut mereka) sarang maksiat, pelarangan pendirian rumah ibadah, hingga melakukan kekerasan fisik. Ketika peristiwa Monas terjadi pada 1 Juni 2008, saya melihat sendiri seperti apa kebrutalan FPI. Kebetulan saat itu saya sedang meliput sejumlah kegiatan di hari lahir pancasila di kawasan Monas.

Dengan mata kepala sendiri, saya melihat anggota FPI memukuli para peserta dari Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan, AKKBB. Di depan tugu Monas FPI mengejar dan memukul siapapun yang mereka deteksi sebagai bagian dari AKKBB. Tidak peduli tua, muda, laki-laki atau perempuan, semua tidak luput dari kebrutalan FPI.

Dan disana saya juga melihat betapa aparat polisi tidak berani menghadapi FPI. Puluhan pasukan perintis yang mengendarai motor dan dilengkapi dengan alat pemukul hanya bisa menggertak FPI dengan raungan gas motornya. Tidak ada satupun dari aparat yang berhasil “menyentuh” anggota FPI saat itu. Bahkan hingga aksi penyerangan itu selesai, aparat membiarkan anggota FPI membubarkan diri dari kawasan Monas. Sungguh ironis

Kejadian tersebut hanya satu contoh dari ratusan aksi brutal FPI. Ini belum termasuk ulah anggota FPI nyang kerap memalaki pengusaha hiburan, nyambi jadi debt collector, jadi massa bayaran dalam kasus sengketa tanah, dan lain sebaginya. Dari rentetan kenyataan diatas, sudah jelas FPI adalah ancaman bagi kita semua. Ancaman untuk Indonesia, ancaman untuk Anda, ancaman untuk saya, ancaman untuk kita semua.

Berbeda dengan JIL, yang makin hari gerakannya semakin melemah, FPI semakin hari keberadaaanya justru semakin membesar dang menguat. Ini yang membuat FPI semakin tidak tersentuh oleh hokum di Indonesia. Jadi urgensi menolak FPI jauh lebih besar daripada menolak JIL. FPI adalah ancaman nyata bagi kelangsungan Negara kesatuan Republik Indonesia.

Maka itu saya heran dengan orang-orang yang mendukung gerakan Indonesia Tanpa JIL. Kenapa mereka mengusung wacana tersebut di tengah ancaman nyata FPI? JIL itu masalah kecil bagi Indonesia. Masalah yang lebih besar ada di depan mata, yakni FPI. Ini sama dengan pepatah yang mengatakan, “Kuman di seberang lautan Nampak, gajah di pelupuk mata tidak nampak,”. Mau jadi apa orang-orang seperti ini?

Terakhir saya berharap Indonesia tetap jadi Negara yang steril dari ancaman kelompok radikal. Saya juga berharap masyarakat terhindar dari virus-virus kebencian yang dibawa oleh kelompok radikal. Indonesia harus tetap menjadi Indonesia. Negara tidak boleh kalah dengan ancaman FPI dan kelompok sejenisnya. Untuk Indonesia yang lebih baik, demi anak dan cucu kita semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar