Follow by Email

Minggu, 15 Juli 2012

Surat Terbuka Untuk Ketua DPR, Marzuki Ali

Kepada Yth,
Ketua DPR-RI
Bpk Marzuki Ali
di Tempat

Salam,

Pertama-tama saya turut prihatin dengan pernyataan bapak mengenai korelasi antara kemiskinan dan kemalasan. Saya tidak menyangka Anda sebagai pejabat negara bisa mengeluarkan pernyataan yang dangkal dan bodoh seperti ini. Dari mana rumusannya orang malas pasti miskin? Sebagai orang yang dianggap pintar, Anda seharusnya bisa lebih tertib dalam berbicara.

Kalau berbicara soal kemiskinan, Anda sepatutnya membuka mata lebar-lebar dan jujur akan realita yang ada. Apa benar orang miskin itu malas? Menurut saya, mereka itu miskin bukan karena malas, tapi karena dimiskinkan oleh sistem (sistem ekonomi khususnya). Wujud sistem ini adalah produk hukum atau kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat kecil.

Sebagai contoh, undang-undang penanaman modal asing yang telah menggeser pengusaha kecil dan menengah dalam negeri. Undang-undang ini hadir untuk membuka jalan seluas-luasnya bagi para pemodal asing. Ini jelas meminggirkan anak negeri, sehingga kemudian memiskinkan mereka.

Contoh lain, kebijakan pemerintah mengimpor bahan pangan dari luar negeri yang pada akhirnya meminggirkan para petani dan kemudian memiskinkan mereka. Kita tahu, hingga kini banyak sekali bahan pangan yang diimpor pemerintah dari luar negeri, seperti kedele, singkong, gula, garam serta buah-buahan. Barang-barang tersebut dengan mudah masuk ke Indonesia dengan harga murah. Padahal barang-barang itu ada dan bisa tumbuh dengan mudah di bumi Indonesiia. Ini jelas sebuah proses pemiskinan.

Bukan hanya pada tataran undang-undang atau kebijakan pemerintah pusat. Pemiskinan juga dilakukan oleh pemerintah tingkat daerah. Salah satu contohnya adalah peraturan daerah soal ketertiban umum yang dikeluarkan oleh pemerintah DKI Jakarta.

Melalui perda ini, dengan dalih melakukan penataan kota, pemda menggusur para pedagang kecil yang mencari nafkah untuk kebutuhan sehari-hari. Tidak jarang penggusuran dilakukan tanpa adanya solusi kedepan. Penggusuran dilakukan dengan membabi buta, bahkan seringkali tidak mengedepankan cara-cara yang manusiawi.

Sekarang pertanyaan saya adalah, apakah para pengusaha kecil menengah itu malas? Apakah para petani itu malas? Dan apakah para pedagang kaki lima itu malas? Jawabannya tegas, TIDAK!

Setiap hari mereka bergelut dengan kerasnya hidup demi kehidupan yang lebih baik. Setiap hari mereka bekerja keras demi sesuap nasi. Mereka tidak malas... sama sekali tidak malas! Tapi langkah mereka terhenti karena adanya sebuah sistem yang menghambat mereka menggapai sumber-sumber ekonomi. Dan sistem itu dibuat/diciptakan oleh tangan-tangan pemerintah.

Kalau bicara malas, kita semua harus jujur, bahwa kemalasan itu lebih melekat pada para anggota DPR, anggota dewan yang Anda pimpin. Lihat, betapa seringnya kita mendengar berita anggota DPR yang bolos mengikuti rapat. Belum lagi anggota dewan yang tenggelam dalam gaya hidup hedon, berfoya-foya dengan uang rakyat dengan dalih studi banding tapi hasilnya nihil. Ini jelas sebuah bentuk kemalasan yang akut. Inilah kemalasan yang sesungguhnya.

Dan kemalasan itulah yang pada akhirnya mendorong para anggota dewan melakukan korupsi. Memakan uang rakyat, menikmatinya, sembari membiarkan orang kecil tetap miskin dan pada akhirnya mati. INILAH KEMALASAN YANG SEJATI!!!

Karena itu, saya teramat sangat prihatin dan geram terhadap pernyataan Anda soal kemiskinan dan kemalasan. Pernyataan itu sama sekali tidak menunjukkan bahwa Anda adalah orang yang layak didaulat sebagai pejabat negara. Karena itu saya meminta Anda segera meralat pernyataan tersebut dan meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia.

Sekian,


Rio Rizalino
(Rakyat Jelata)

Note:
Tulisan ini adalah respon saya pribadi pada pernyataan Ketua DPR, Marzuki Ali, soal kemiskinan dan kemalasan. Pada suatu kesempatan, Marzuki Ali menyebut bahwa orang miskin itu disebabkan karena dia malas. Pernyataan ini keluar dari mulut Marzuki Ali, setelah seseorang bertanya soal seberapa besar dampak korupsi terhadap kemiskinan.

Beritanya bisa disimak disini: http://nasional.inilah.com/read/detail/1880388/marzuki-ali-orang-miskin-karena-malas-kerja

Tidak ada komentar:

Posting Komentar