Rabu, 26 September 2012

PKI Dilarang Merokok

Sudah beberapa hari ini, saya menemui dan mewawancarai sejumlah ex tapol 1965. Hal itu saya lakukan  untuk keperluan peliputan program acara di tempat saya bekerja. Program tersebut mengangkat tema seputar peristiwa G30S. Banyak cerita dan kesaksian yang saya dapat dari para ex tapol tersebut. Namun dari sekian banyak cerita, satu hal yang menarik adalah larangan merokok di kalangan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Menurut mereka, salah satu kode etik ketika menjadi anggota atau simpatisan PKI adalah dilarang merokok. Larangan ini muncul bukan tanpa sebab. Menurut para ex tapol itu, salah satu tujuan berdirinya PKI adalah untuk memperjuangkan hak-hak kaum miskin dan tertindas. Jadi basis massa dan basis ideologi mereka adalah kaum proletar. Lalu kenapa dilarang merokok? menurut salah satu ex tapol, mbah Pudjiati, larangan itu muncul karena mayoritas anggota PKI adalah orang miskin. Jadi, kalau orang miskin punya kebiasaan merokok, itu sama saja memiskinkan diri sendiri. “Lebih baik uang untuk beli rokok digunakan untuk kebutuhan lain,” kata mbah Pudjiati yang kini berusia hampir 80 tahun.

Menurut mbah Pudjiati, larangan ini pula yang menjadi salah satu bukti kalau PKI bukan dalang G30S. Kalau kita melihat film “Pengkhianatan G30S/PKI” yang selalu diputar setiap tahun pada era orde baru, ada sebuah adegan di mana para petinggi PKI sedang rapat mempersiapkan kudeta. Di sana mereka rapat sambil menghisap rokok. Adegan itu cukup mudah diingat, karena setting ruangan yang remang-remang, kepulan asap dimana-mana dan sesekali kamera menyorot close up bibir pemimpin rapat yang sambil menghisap rokok. “Djawa adalah kontji.” begitu kalimat yang saya ingat dalam adegan rapat tersebut.

Mengomentari adegan di film itu, mbah Pudjiati berkata, “Dalang G30S itu bukan PKI. Wong orang-orang PKI itu ngga boleh merokok. Makanya film itu bohong semuanya,”

Sabtu, 21 Juli 2012

Teater Ramadhan

Bulan suci Ramadhan sudah di depan mata. Inilah bulan yang sangat diagungkan oleh umat Islam. Karena dalam bulan ini Tuhan membuka pintu maaf sebesar-besarnya. Semua bentuk dosa dapat dihapuskan, karena bulan ini adalan bulan pencucian dosa. Tak ketinggalan, pintu rahmat juga akan dibuka lebar-lebar. Jadi segala amalan yang dilakukan pada bulan Ramadhan akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda. Maka tidak heran kalau umat Islam selalu dianjurkan untuk meningkatkan ibadah di bulan ini.

Tapi sadarkah Anda, kalau bulan suci ini ibarat sebuah panggung besar. Di panggung itu kita laksana bermain teater dan peran yang paling banyak dimainkan adalah peran “merasa lebih Islami”. Pada bulan ini mesjid tiba-tiba penuh. Pengajian tiba-tiba sesak dengan jamaah. Asma Allah seketika berkumandang dimana-mana. Padahal sebelumnya, mesjid lengang. Pengajian terasa membosankan. Dan asma Allah.. siapa yang ingat kepadanya?

Tampaknya semangat ramadhan muncul dalam wajah yang berbeda. Semua orang tiba-tiba bicara soal agama. Mulai dari pejabat, politisi sampai artis sinetron. Semua berusaha untuk tampil sesuci mungkin di bulan ini. Padahal di bulan yang lain belum tentu seperti itu. Sebagai contoh, perhatikan televisi anda. Pasti mudah sekali membedakan tampilan isi televisi kita ketika bukan bulan ramadhan, dan bukan pada bulan ramadhan.

Artis-artis kesayangan kita tiba-tiba tampil dengan balutan busana muslim. Yang pria tampak bersahaja dengan sarung, baju koko dan pecinya. Sementara yang perempuan tampil mempesona dengan jilbab dan baju kurungnya. Tutur bahasanya pun jadi santun dan sopan. Padahal, di luar bulan ramadhan mereka terbiasa tampil dengan tank top, rok mini atau baju ketat. Yang pria pun tak kalah gaya dengan yang perempuan.

Sinetron kita tiba-tiba mengusung tema Islam, dengan judul yang mengambil nama-nama perempuan Islam. Seperti Nurjannah, Aisyah dan sebagainya. Dengan seketika istilah-istilah seperti “antum”, “ukhti” dan “ustadz” tiba-tiba akrab dalam telinga kita. Sinetron kita menjelma menjadi sinetron yang sangat islami. Penonton dibuat seakan-akan kalau sudah menontonnya, iman jadi bertambah tebal. Padahal inti ceritanya sama persis dengan sinetron di luar bulan ramadhan. Kalau tidak berebut pria, yah berebut perempuan. Perannya pun setali tiga uang dengan sinetron non-ramadhan. Ibu mertua yang jahat, saudara perempuan yang licik, ayah yang bijaksana dan si miskin yang menderita.

Mimpi pun tetap dijual dalam sinetron-sinetron ramadhan itu. Sama seperti sinetron pada umumnya. Pemeran prianya selalu masih muda dan mapan. Lengkap dengan rumah mewah dan mobil berkelasnya. Dan kata-kata kasar dan makian tidak ketinggalan. Tapi bedanya di sinetron ramadhan ini, ada kata-kata seperti “Masya Allah”, “Innalillahi”, dan “Allahu Akbar”

Itu di dunia sinetron. Di dunia keartisan lainnya, tidak jauh berbeda. Masih di televisi, hampir semua artis penyanyi banting setir jadi penyanyi lagu-lagu bernuansa rohani. Mereka yang bisanya tampil urakan dan bergaya agak sedikit dipaksakan, tiba-tiba tampil dengan balutan busana muslim. Yang paling banyak, mengenakan baju koko warna putih, lengkap dengan selendang yang melingkar di leher, dan sebagian ada yang memakai peci. Mereka yang biasanya menyanyikan lagu bertema jatuh cinta, patah hati, perselingkuhan dan kasih tak sampai, tiba-tiba mendendangkan soal tobat, pasrah dan kecintaan pada Sang Khalik. Sungguh sebuah keadaan yang terbalik 180 derajat.

Melihat fenomena seperti ini, apa yang ada dalam benak anda? Kalau saya menangkap dua hal. Kemunafikan dan upaya komersialisasi agama. Kemunafikan terlihat jelas pada bulan ramadhan. Mereka yang terbiasa hidup glamor dan/atau terbiasa menikmati dunia gemerlap, tiba-tiba muncul dalam balutan baju muslim hanya karena ini bulan ramadhan. Itu yang terlihat di depan televisi. Di belakang kamera siapa yang tahu? Apakah mereka tetap konsisten dengan semangat keislamannya, atau malah sebaliknya.

Untuk menjawab pertanyaan ini sebenarnya tidak sulit. Lihat saja bagaimana kehidupan mereka setelah bulan ramadhan. Apakah mereka tetap dalam balutan busana muslim? Apakah tutur kata mereka tetap sopan dan santun? Apakah mereka tetap berbicara soal agama? Anda bisa menilai sendiri.

Kedua, komersialisasi agama. Sebagaimana kita tahu, umat Islam sangat antusias dalam menyambut bulan suci ramadhan. Nah, antusiasme inilah yang dimanfaatkan para pemilik modal untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya di bulan ramadhan. Maka dibuatlah sinetron-sinetron bertemakan islam. Lengkap dengan pemainnya yang tiba-tiba berbusana muslim. Selain itu, keluarlah album religi dari artis kesayangan anda.

Tak ketinggalan iklan. Di bulan puasa ini muncul sejumlah iklan versi ramadhan. Tak jauh berbeda dengan sinetron, bintang iklannya pun tiba-tiba berjilbab dan berpeci. Tema yang ditawarkan pun sebenarnya agak dipaksakan dengan bulan ramadhan. Sebagai contoh, apa hubungannya rokok dengan bulan ramadhan? Padahal kita semua tahu kalau merokok itu hukumnya haram pada bulan puasa. Tapi karena ini adalah bulan yang penuh rahmat, maka iklan rokok pun dibuat dengan nuansa ramadhan/Islami.

Semua yang saya sebutkan diatas merupakan bentuk komersialisasi agama. Antusiasme umat Islam yang sedang menanjak dalam bulan ramadhan ini dijadikan alat oleh pemegang modal untuk meraup untung sebesar-besarnya. Meraup untung sebenarnya sah-sah saja dalam berdagang. Tapi kalau sampai mengkerdilkan sebuah agama yang agung, tentu lain persoalannya.

Itulah sekelumit paparan mengenai teater di bulan Ramadhan. Bulan ini memang suci. Peran apakah yang Anda mainkan dalam teater sebulan penuh ini? Apakah Anda ikut terbuai dengan semangat ramadhan yang semu? Atau Anda berupaya menemukan makna yang paling hakiki dari bulan ini? Semoga Anda dan saya masuk dalam pilihan yang terakhir.

Selamat berpuasa!

Minggu, 15 Juli 2012

Kenapa Mandi di Bathtub?

Saya sudah beberapa kali menginap di hotel berbintang. Dan umumnya, di hotel berbintang kamar mandinya di lengkapi dengan bathtub. Disanalah penghuni hotel mandi, membersihan dirinya. Meski sudah beberapa kali menginap di hotel dan mencoba mandi di bathtub, saya masih tetap tidak mengerti apa sebenarnya kelebihan mandi di bathtub?

Setahu saya, tujuan mandi adalah untuk menyingkirkan segala kotoran dan peluh yang menempel di tubuh setelah berjam-jam beraktifitas. Selain itu, mandi juga bertujuan untuk menyegarkan badan. Logika saya berkata, kotoran dan peluh akan enyah dari tubuh kita apabila terkena air yang mengalir, air yang dibasuh.

Itu mengapa, sedari kecil kita dianjurkan untuk mandi menggunakan gayung atau timba. Dengan begitu kita bisa membasuh air dari atas hingga bagian bawah tubuh. Lantas kotoran akan terlepas dan ikut terbawa oleh air yang mengalir ke saluran air.

Tapi tampaknya logika itu tidak berlaku pada cara mandi dengan menggunakan bathtub. Kalau kita mandi di bathtub, sebelumnya kita menampung air hingga penuh. Setelah itu diberi cairan sabun hingga berbusa, lalu kita masuk ke dalamnya dan berendam.

Dengan cara ini, tidak ada air yang mengalir ketika kita mandi. Badan kita justru berada terus menerus dalam air yang sudah tercampur dengan segala kotoran yang menempel di tubuh kita.  Ini artinya, mandi di bathtub sama saja mendi dengan air kotor. Betul tidak?

Tapi ironisnya banyak orang yang menganggap mandi di bathtub jauh lebih berkelas daripada mandi di kamar mandi dengan menggunakan gayung. Hmm... sepertinya ada pola pikir yang harus diubah. Saya menyebut gejala ini sebagai sebuah sesat pikir.

Meski begitu, tidak sedikit orang yang rela membiarkan pikirannya tersesat hanya untuk prestise semata. Tidak sedikit juga orang yang membiarkan pikirannya tersasar hanya untuk memperoleh sensasi sesaat. Lucu, terkadang juga miris melihatnya.

Eh.. ngomong-ngomong bathtub saya sudah penuh nih. Mandi dulu ah :)


Yogyakarta, 15 Juli 2012

Surat Terbuka Untuk Ketua DPR, Marzuki Ali

Kepada Yth,
Ketua DPR-RI
Bpk Marzuki Ali
di Tempat

Salam,

Pertama-tama saya turut prihatin dengan pernyataan bapak mengenai korelasi antara kemiskinan dan kemalasan. Saya tidak menyangka Anda sebagai pejabat negara bisa mengeluarkan pernyataan yang dangkal dan bodoh seperti ini. Dari mana rumusannya orang malas pasti miskin? Sebagai orang yang dianggap pintar, Anda seharusnya bisa lebih tertib dalam berbicara.

Kalau berbicara soal kemiskinan, Anda sepatutnya membuka mata lebar-lebar dan jujur akan realita yang ada. Apa benar orang miskin itu malas? Menurut saya, mereka itu miskin bukan karena malas, tapi karena dimiskinkan oleh sistem (sistem ekonomi khususnya). Wujud sistem ini adalah produk hukum atau kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat kecil.

Sebagai contoh, undang-undang penanaman modal asing yang telah menggeser pengusaha kecil dan menengah dalam negeri. Undang-undang ini hadir untuk membuka jalan seluas-luasnya bagi para pemodal asing. Ini jelas meminggirkan anak negeri, sehingga kemudian memiskinkan mereka.

Contoh lain, kebijakan pemerintah mengimpor bahan pangan dari luar negeri yang pada akhirnya meminggirkan para petani dan kemudian memiskinkan mereka. Kita tahu, hingga kini banyak sekali bahan pangan yang diimpor pemerintah dari luar negeri, seperti kedele, singkong, gula, garam serta buah-buahan. Barang-barang tersebut dengan mudah masuk ke Indonesia dengan harga murah. Padahal barang-barang itu ada dan bisa tumbuh dengan mudah di bumi Indonesiia. Ini jelas sebuah proses pemiskinan.

Bukan hanya pada tataran undang-undang atau kebijakan pemerintah pusat. Pemiskinan juga dilakukan oleh pemerintah tingkat daerah. Salah satu contohnya adalah peraturan daerah soal ketertiban umum yang dikeluarkan oleh pemerintah DKI Jakarta.

Melalui perda ini, dengan dalih melakukan penataan kota, pemda menggusur para pedagang kecil yang mencari nafkah untuk kebutuhan sehari-hari. Tidak jarang penggusuran dilakukan tanpa adanya solusi kedepan. Penggusuran dilakukan dengan membabi buta, bahkan seringkali tidak mengedepankan cara-cara yang manusiawi.

Sekarang pertanyaan saya adalah, apakah para pengusaha kecil menengah itu malas? Apakah para petani itu malas? Dan apakah para pedagang kaki lima itu malas? Jawabannya tegas, TIDAK!

Setiap hari mereka bergelut dengan kerasnya hidup demi kehidupan yang lebih baik. Setiap hari mereka bekerja keras demi sesuap nasi. Mereka tidak malas... sama sekali tidak malas! Tapi langkah mereka terhenti karena adanya sebuah sistem yang menghambat mereka menggapai sumber-sumber ekonomi. Dan sistem itu dibuat/diciptakan oleh tangan-tangan pemerintah.

Kalau bicara malas, kita semua harus jujur, bahwa kemalasan itu lebih melekat pada para anggota DPR, anggota dewan yang Anda pimpin. Lihat, betapa seringnya kita mendengar berita anggota DPR yang bolos mengikuti rapat. Belum lagi anggota dewan yang tenggelam dalam gaya hidup hedon, berfoya-foya dengan uang rakyat dengan dalih studi banding tapi hasilnya nihil. Ini jelas sebuah bentuk kemalasan yang akut. Inilah kemalasan yang sesungguhnya.

Dan kemalasan itulah yang pada akhirnya mendorong para anggota dewan melakukan korupsi. Memakan uang rakyat, menikmatinya, sembari membiarkan orang kecil tetap miskin dan pada akhirnya mati. INILAH KEMALASAN YANG SEJATI!!!

Karena itu, saya teramat sangat prihatin dan geram terhadap pernyataan Anda soal kemiskinan dan kemalasan. Pernyataan itu sama sekali tidak menunjukkan bahwa Anda adalah orang yang layak didaulat sebagai pejabat negara. Karena itu saya meminta Anda segera meralat pernyataan tersebut dan meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia.

Sekian,


Rio Rizalino
(Rakyat Jelata)

Note:
Tulisan ini adalah respon saya pribadi pada pernyataan Ketua DPR, Marzuki Ali, soal kemiskinan dan kemalasan. Pada suatu kesempatan, Marzuki Ali menyebut bahwa orang miskin itu disebabkan karena dia malas. Pernyataan ini keluar dari mulut Marzuki Ali, setelah seseorang bertanya soal seberapa besar dampak korupsi terhadap kemiskinan.

Beritanya bisa disimak disini: http://nasional.inilah.com/read/detail/1880388/marzuki-ali-orang-miskin-karena-malas-kerja

Masih ingatkah Anda Tentang Budi Pekerti?

Malam minggu lalu, saya bertemu dan berbincang dengan sejumlah penganut penghayat kepercayaan di Bekasi, Jawa Barat. Kami berbicara panjang lebar. Sejatinya, kedatangan saya hanya ingin menyampaikan niat untuk melakukan peliputan mengenai diskriminasi pendidikan yang dialami oleh anak-anak penghayat di sekolah.

Tapi pembicaraan mengalir deras, tak terbendung di rencana peliputan itu saja. Pembicaraan meluas hingga ke soal apa itu penghayat, seperti apa ritual yang mereka lakukan, bagaimana konsep ketuhanan menurut mereka, seperti apa kearifan dan pandangan hidup yang mereka jalani.

Soal ketuhanan, tidak ada yang istimewa. Sama seperti agama lainnya, mereka juga mengakui adanya Tuhan sebagai satu-satunya entitas yang harus disembah dan dipuja. Beranjak ke soal ritual. Bagian ini jelas bisa menyulut kontroversi. Sebab, ritual ibadah yang mereka lakukan sangat jauh berbeda dengan ritual keagamaan pada umumnya.

Dalam kepercayaan mereka, pemujaan kepada Tuhan tidak hanya dibatasi oleh gerakan monoton, atau bacaan-bacaan yang harus hapal dan dikumandangkan. Bagi mereka, ibadah pada Tuhan adalah serangkaian pemikiran dan tindakan manusia yang dilandaskan pada nilai-nilai kemanusiaan, budi pekerti, rasa hormat,  ajakan pada kebaikan serta pantangan berbuat kejahatan. Semua itu harus terwujud pada perilaku manusia sepanjang hari, tanpa mengenal waktu dan tempat.

Namun satu hal yang menarik adalah bagaimana mereka menjunjung tinggi budi pekerti sebagai landasan utama dalam hidup di dunia. Ini terejawantahkan dalam pola hidup keseharian. Dalam pandangan mereka, budi pekerti adalah bekal utama untuk menciptakan hidup yang damai dan harmonis. Sebab dalam wilayah budi pekerti terdapat ajaran untuk saling menghormati dan saling menghargai antar sesama manusia.

Dalam budi pekerti, manusia juga diajarkan sopan santun, menjauhi permusuhan, menghargai tamu, mengasihi yang lemah, dan lain-lain. Sejenak saya berpikir, nilai-nilai itulah yang sudah semakin terkikis saat ini. Ruh budi pekerti tergantikan oleh sikap arogan, sikap paling benar, intoleran. Budi pekerti juga kerap tergantikan dengan perangai yang kasar, ucapan yang menyakiti, serta pikiran yang sempit, picik dan jumud.

Inilah realitas kita saat ini. Budi pekerti seakan jadi barang langka, karena tergerus oleh pandangan hidup komunal yang masing-masing merasa paling benar dan paling berhak diatas kelompok lainnya. Dinginnya Sabtu malam di Bekasi tidak terasa karena tertutupi oleh hangatnya suasana di rumah ibadah penghayat kepercayaan tersebut. Saya yang berbeda dengan mereka tetap dianggap saudara, disambut oleh senyum, dan diberikan tutur kata yang santun. Malam itu, sebagai minoritas di lingkungan mereka, saya sama sekali tidak merasa dihakimi atau dipojokkan.

Yah, itulah budi pekerti. Dua kata yang sudah semakin jarang terdengar saat ini. Karena sudah semakin sedikit juga orang yang mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Utan Kayu, 4 Juni 2012

Sabtu, 25 Februari 2012

JIL Vs FPI


Belakangan ini saya melihat ada sesuatu yang unik di situs jejaring sosial. Ada yang membuat gerakan Indonesia tanpa JIL (Jaringan Islam Liberal). Entah siapa yang memulai gerakan itu, saya tidak terlalu mau tahu. Tapi satu yang pasti, entah bagaimana saya yakin, kalau gerakan itu adalah antitesis dari gerakan Indonesia Tanpa FPI (Front Pembela Islam). Sebelumnya, tepat pada hari kasih sayang, 14 Februari 2012, puluhan orang yang berasal dari sejumlah organisasi dan perkumpulan, berdemo di Bunderan HI Jakarta, menyuarakan Indonesia Tanpa FPI.  

Gerakan ini dipicu aksi heroik masyarakat adat Dayak Kalimantan Tengah yang menolak empat pengurus FPI yang hendak meresmikan FPI cabang Kalteng. Langkah keempat petinggi FPI itu terhenti di bandara Tjilik Riwut karena ribuan masyarakat Dayak mengepung pesawat yang membawa petinggi FPI itu. Mereka terkejut campur takut, sehingga mereka tidak berani turun dari pesawat dan akhirnya diturunkan di Banjarmasin oleh pihak maskapai.

Setelah diklarifikasi, masyarakat adat Dayak Kalimantan Tengah menolak FPI bukan karena organisasi tersebut mengusung panji-panji Islam. Penolakan itu lebih disebabkan pada citra FPI yang lekat dengan kekerasan dan intoleransi. Kejadian di bandara Tjilik Riwut itu seperti membuka kotak Pandora. Banyak orang yang terinspirasi oleh keberanian orang Dayak. Inspirasi itu kemudian terwujud beberapa hari berikutnya di Jakarta, lewat gerakan Indonesia Tanpa FPI.

Nah, kira-kira selang seminggu dari demo Indonesia Tanpa FPI, muncul gerakan serupa tapi dari kutub yang berbeda : Indonesia Tanpa JIL. Entah apa korelasi JIL dengan FPI sehingga pendukung gerakan itu seakan ingin memunculkan logika, “Kalau menolak FPI berarti mendukung JIL”. Logika ini bisa dimaklumi kalau inisiator Indonesia tanpa JIL adalah anggota FPI. Tapi sepertinya gerakan itu tidak terkait langsung dengan FPI secara organisasi.. entahlah!

Menurut saya, tidak ada yang baru dari gerakan Indonesia Tanpa JIL. Semangatnya tetap sama, yakni menolak JIL karena dianggap merusak akidah umat Islam. Ini adalah isu lama. Isu ini sudah ada sejak munculnya JIL sebelas tahun lalu. Sejak itu pertarungan gagasan dan ide antara JIL dan penentangnya terus bergulir. Orang-orang yang mendukung gerakan Indonesia Tanpa JIL seperti kembali meracau mengenai sakit hati mereka terhadap JIL.

Karena tidak ada yang baru, maka menurut saya, gerakan Indonesia Tanpa JIL tidak ada urgensinya. Apa coba urgensinya? Semua gagasan yang dibawa JIL telah dipatahkan jauh-jauh hari. Beribu-ribu artikel dan buku sudah ditulis untuk meredam gagasan liberalisme Islam di Indonesia. Terlebih saat ini JIL tidak lagi sekuat dan sebesar dulu. Jaringan Islam Liberal sudah melemah.

Tahun 2005, JIL merayakan ulang tahunnya yang keempat di Komunitas Utan Kayu. Pada perayaan ultahnya, JIL menggelar sejumlah acara disana selama seminggu penuh. Ada diskusi, pemutaran film dan bazaar buku. Di hari terakhir saya menyempatkan diri kesana untuk ikut diskusinya. Disana saya melihat betapa meriahnya ulang tahun JIL. Komunitas Utan Kayu diubah layaknya pasar malam. Pengunjungnya penuh sesak. Pemandangan seperti itu memunculkan kesan dalam benak saya, betapa besar dan kuatnya mahluk yang bernama JIL ini.

Tapi selang dua tahun kemudian, saya kembali menghadiri ulang tahun JIL. Apa yang saya lihat? Saya tidak melihat gemerlap dan keriuhan yang saya temui dua tahun sebelumnya. Kali ini ulang tahun JIL begitu sederhana, bahkan terkesan biasa. Kalau tahun 2005 perayaan ultah JIL dilangsungkan selama seminggu penuh dengan beragam acara, pada tahun 2007 perayaan ultah hanya dilangsungkan selama tiga hari. Itu pun hanya diisi dengan acara diskusi. Tidak ada pemutaran film, tidak ada bazaar buku.

Usut punya usut, perubahan pada JIL itu disebabkan karena organisasi ini telah “ditinggalkan” oleh punggawa-punggawanya, Ulil Abshar Abdallah, Lutfie Assyaukanie, Abdul Moqsith Ghazali dan Novriantoni Kahar. Mereka melanjutkan studi ke sejumlah perguruan tinggi di dalam dan luar negeri. Ulil ke Boston dan Lutfie ke Australia. Sementara Abdul Moqsith Ghazali melanjutkan studi S3 di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Dan Novriantoni melanjutkan S2 di jurusan Sosiologi Universitas Indonesia.

 Di Indonesia, JIL diurus oleh generasi keduanya, Saidiman Ahmad, Anick HT dan Mohammad Guntur Romli. Menurut pengamatan saya, ketiga orang ini tidak semilitan kwartet sebelumnya. Ini juga yang (mungkin) jadi faktor merosotnya gerilya JIL, termasuk dalam urusan pendanaan. Terlebih Ulil, Lutfie dan Novri hampir tidak aktif lagi di JIL karena punya kesibukan baru diluar. Kondisi lima tahun lalu itu tidak jauh berbeda dengan hari ini.

Penyebaran gagasan liberal Islam, sebelumnya dilakukan JIL melalui diskusi bulanan, roadshow ke kampus-kampus, penerbitan buku dan update tulisan di situs islamlib.com. Tapi kini roadshow ke kampus makin jarang, penerbitan buku hampir tidak ada. Kegiatan yang masih terlihat, diskusi bulanan dan update tulisan di situs. Jelas JIL telah melemah. Lantas apa urgensinya melakukan gerakan Indonesia Tanpa JIL?

Berbeda dengan gerakan Indonesia Tanpa FPI. Gerakan ini jelas memiliki momentum yang tepat. Gerakan ini juga sebagai media ekspresi kemuakan masyarakat terhadap ulah, perangai dan sepak terjang FPI. Gerakan ini juga mempunyai urgensi, yakni menyelamatkan Indonesia dari ancaman kelompok radikal, serta mengenyahkan kekerasan dalam kultur kebangsaan Indonesia. Kita semua tahu, radikalisme dan kekerasan tidak bisa lepas dari mahluk yang bernama FPI.

Sejak berdiri tahun 1998, entah sudah berapa banyak aksi kekerasan yang mengatasnamakan agama yang dilakukan FPI. Mulai dari razia tempat (yang menurut mereka) sarang maksiat, pelarangan pendirian rumah ibadah, hingga melakukan kekerasan fisik. Ketika peristiwa Monas terjadi pada 1 Juni 2008, saya melihat sendiri seperti apa kebrutalan FPI. Kebetulan saat itu saya sedang meliput sejumlah kegiatan di hari lahir pancasila di kawasan Monas.

Dengan mata kepala sendiri, saya melihat anggota FPI memukuli para peserta dari Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan, AKKBB. Di depan tugu Monas FPI mengejar dan memukul siapapun yang mereka deteksi sebagai bagian dari AKKBB. Tidak peduli tua, muda, laki-laki atau perempuan, semua tidak luput dari kebrutalan FPI.

Dan disana saya juga melihat betapa aparat polisi tidak berani menghadapi FPI. Puluhan pasukan perintis yang mengendarai motor dan dilengkapi dengan alat pemukul hanya bisa menggertak FPI dengan raungan gas motornya. Tidak ada satupun dari aparat yang berhasil “menyentuh” anggota FPI saat itu. Bahkan hingga aksi penyerangan itu selesai, aparat membiarkan anggota FPI membubarkan diri dari kawasan Monas. Sungguh ironis

Kejadian tersebut hanya satu contoh dari ratusan aksi brutal FPI. Ini belum termasuk ulah anggota FPI nyang kerap memalaki pengusaha hiburan, nyambi jadi debt collector, jadi massa bayaran dalam kasus sengketa tanah, dan lain sebaginya. Dari rentetan kenyataan diatas, sudah jelas FPI adalah ancaman bagi kita semua. Ancaman untuk Indonesia, ancaman untuk Anda, ancaman untuk saya, ancaman untuk kita semua.

Berbeda dengan JIL, yang makin hari gerakannya semakin melemah, FPI semakin hari keberadaaanya justru semakin membesar dang menguat. Ini yang membuat FPI semakin tidak tersentuh oleh hokum di Indonesia. Jadi urgensi menolak FPI jauh lebih besar daripada menolak JIL. FPI adalah ancaman nyata bagi kelangsungan Negara kesatuan Republik Indonesia.

Maka itu saya heran dengan orang-orang yang mendukung gerakan Indonesia Tanpa JIL. Kenapa mereka mengusung wacana tersebut di tengah ancaman nyata FPI? JIL itu masalah kecil bagi Indonesia. Masalah yang lebih besar ada di depan mata, yakni FPI. Ini sama dengan pepatah yang mengatakan, “Kuman di seberang lautan Nampak, gajah di pelupuk mata tidak nampak,”. Mau jadi apa orang-orang seperti ini?

Terakhir saya berharap Indonesia tetap jadi Negara yang steril dari ancaman kelompok radikal. Saya juga berharap masyarakat terhindar dari virus-virus kebencian yang dibawa oleh kelompok radikal. Indonesia harus tetap menjadi Indonesia. Negara tidak boleh kalah dengan ancaman FPI dan kelompok sejenisnya. Untuk Indonesia yang lebih baik, demi anak dan cucu kita semua.

Selasa, 21 Februari 2012

Nice Dream = Mimpi Indah

"They love me like I was a brother
They protect me, listen to me
They dug me my very own garden
Gave me sunshine, made me happy"

Begitu penggalan awal lirik lagu Radiohead yang berjudul "Nice Dream". Ini adalah salah satu lagu yang paling saya suka dari Radiohead. Entah apa maksud Thom Yorke (vokalis Radiohead) menulis lirik seperti itu. Sejak lagu ini dikeluarkan belasan tahun lalu, hingga kini saya masih bertanya-tanya, apa maksud dari kalimat itu. Saya coba menduganya.

"They love me like I was a brother. They protect me, listen to me,". Dalam kalimat ini si penulis seakan menggambarkan kalau dia sedang berada dalam sebuah keluarga atau komunitas yang asing. Tapi orang-orang asing tersebut justru memperlakukan dia seperti saudara sendiri. Disana dia dihargai, disana dia merasa ada, merasa aman, tidak merasa diserang, setiap kata-katanya didengarkan, tidak dibantah, apalagi disudutkan dan dihakimi.

Si penulis lirik merasa teduh ditengah orang-orang asing tersebut. Disana ia bebas berkreasi, ia bebas menjadi dirinya sendiri tanpa harus khawatir mendapatkan pandangan yang miring, tanpa takut dianggap nyeleneh, aneh dan bahkan sesat. Orang-orang tersebut baru mengenalnya sesaat. Tapi justru disana ia mendapatkan semua yang dibutuhkan dari sebuah keluarga. Ironis.

Kalimat kedua, "They dug me my very own garden. Gave me sunshine, made me happy". Masih dalam keluarga tersebut, si penulis merasa mendapatkan hidupnya kembali. Ketidaknyamanan yang ia rasakan bertahun-tahun sebelumnya, seketika hilang ketika ia bertemu dan masuk ke dalam lingkaran keluarga yang asing tersebut. Ibarat tumbuhan yang baru keluar dari dalam gua dan mendapatkan kembali sinar matahari. Kehidupan terasa tenteram, semua terasa menyenangkan.

Dan akhirnya "mimpi indah" (nice dream) tersebut ia dapati diluar tempat ia lahir dan tumbuh. Orang-orang asing itu kini menjadi keluarga dia yang sebenarnya..